Cerita Dewasa 2016 Berfantasi Diranjang Bareng Tante Binal

Cerita Dewasa 2016 Berfantasi Diranjang Bareng Tante Binal

Posted on
Agen Betting Terpercaya Obat Pembesar Penis
Obat Pembesar Penis Obat Pembesar Penis

Cerita Dewasa 2016 Berfantasi Diranjang Bareng Tante Binal | Saat aku masih umur 13 tahun dimana aku sebagai anak tunggal ditunggal orangtuaku yeng mana pergi keluar negeri , Tante Mery teman baik mamahku membantu aku dengan menjaga rumah dan menjaga aku, tante Mery akan menginap dirumahku, dia punya tubuh yang langsing dan masih berumur 27 tahun, kulitnya putih bersih kalau memakai pakain seksi sekali.

Cerita Dewasa 2016 Berfantasi Diranjang Bareng Tante BinalCerita Dewasa 2016 Berfantasi Diranjang Bareng Tante Binal | entu saja saya sangat setuju sekali untuk ditemani oleh Tante Mery.Biasanya, setiap ada kesempatan aku suka memainkan kemaluanku sendirian. Tapi belum pernah sampai keluar, waktu itu aku masih belum mengerti apa2, hanya karena rasanya enak. Mengambil kesempatan rumah lagi kosong dan Tante Mery juga belum datang.
Cerita Dewasa 2016 Berfantasi Diranjang Bareng Tante Binal | Setelah pulang sekolah, aku kekamar tidurku sendirian me-mijit2 kemaluan ku sembari menghayalkan tubuh Tante Mery yang seksi. Kubayangkan seperti yang pernah ku lihat di majalah porno dari teman2 ku disekolah. Selagi asyiknya bermain sendirian tanpa ku sadari Tante Mery sudah tiba dirumahku dan tiba2 membuka pintu kamar ku yang lupa ku kunci.

Cerita Dewasa 2016 Berfantasi Diranjang Bareng Tante Binal | Dia sedikit tercengang waktu melihat ku berbaring diatas ranjang telanjang bulat, sembari memegangi kemaluan ku yang berdiri. Aduh malunya setengah mati, ketangkap basah lagi mainin burung. Segera ku tutupi kemaluan ku dengan bantal, wajahku putih pucat.

Melihat ku ketakutan, Tante Mery hanya tersenyum dan berkata “Eh, kamu sudah pulang sekolah J.D., Tante juga baru saja datang”.

Aku tidak berani menjawabnya. “Tidak usah takut dan malu sama Tante, itu hal biasa untuk anak2 mainin burung nya sendiri” ujarnya.

Aku tetap tidak berani berkutik dari tempat tidur karena sangat malu. Tante Mery lalu menambah, “Kamu terusin sajamainnya, Tante hanya mau membersihkan kamar kamu saja, kok”.

“Tidak apa2kan kalau Tante turut melihat permaMerynmu”, sembari melirik menggoda, dia kembali berkata “Kalau kamu mau, Tante bisa tulungin kamu, Tante mengerti kok dengan permaMerynmu J.D.”, tambahnya sembari mendekatiku.

“Tapi kamu tidak boleh bilang siapa2 yah, ini akan menjadi rahasia kita berdua saja”. Aku tetap tidak dapat menjawab apa2, hanya mengangguk kecil walaupun aku tidak begitu mengerti apa maksudnya.

Tante Mery pergi kekamar mandi mengambil Baby Oil dan segera kembali kekamarku. Lalu dia berlutut dihadapan ku. Bantalku diangkat per-lahan2, dan saking takutnya kemaluan ku segera mengecil dan segera ku tutupi dengan kedua telapak tangan ku.

“Kemari dong, kasih Tante lihat permaMerynmu, Tante janji akan ber-hati2 deh”, katanya sembari membujukku. Tangan ku dibuka dan mata Tante Mery mulai turun kebawah kearah selangkanganku dan memperhatikan kemaluan ku yang mengecil dengan teliti.

Dengan per-lahan2 dia memegang kemaluan ku dengan kedua jarinya dan menuruni kepalanya, dengan tangan yang satu lagi dia meneteskan Baby Oil itu dikelapa kemaluan ku, senyumnya tidak pernah melepaskan wajahnya yang cantik.

“Tante pakein ini supaya rada licin, kamu pasti suka deh” katanya sembari mengedipkan sebelah matanya. Malunya setengah mati, belum ada orang yang pernah melihat kemaluan ku, apa lagi memegangnya. Hatiku berdebar dengan kencang dan wajahku merah karena malu.

Tapi sentuhan tangannya terasa halus dan hangat. “Jangan takut J.D., kamu rebahan saja”, ujarnya membujuk ku. Setelah sedikit tenang mendengar suaranya yang halus dan memastikan, aku mulai dapat menikmati elusan tangannya yang lembut.

Tangannya sangat mahir memainkan kemaluanku, setiap sentuhannya membuat kemaluan ku bergetar dengan kenikmatan dan jauh lebih enak dari sentuhan tanganku sendiri.

“Lihat itu sudah mulai membesar kembali”, kemudian Tante Mery melumuri Baby Oil itu keseluruh batang kemaluan ku yang mulai menegang dan kedua bijinya.

Kemudian Tante Mery mulai mengocokin kemaluan ku digenggamannya per-lahan2 sambil membuka lebar kedua pahaku dan mengusapi biji ku yang mulai panas membara.Kemaluan ku terasa kencang sekali, berdiri tegak seenaknya dihadapan muka Tante Mery yang cantik.

Perlahan Tante Mery mendekati mukanya kearah selangkangan ku, seperti sedang mempelajarinya.Terasa napasnya yang hangat berhembus dipaha dan dibijiku dengan halus. Aku hampir tidak bisa percaya, Tante Mery yang baru saja ku khayalkan, sekarang sedang berjongkok diantara selangkanganku.

Setelah kira2 lima menit kemudian, aku tidak dapat menahan rasa geli dari godaan jari2 tangannya. Pinggulku tidak bisa berdiam tenang saja diranjang dan mulai mengikuti setiap irama kocokan tangan Tante Mery yang licin dan berminyak.

Belum pernah aku merasa seperti begitu, semua kenikmatan duniawi ini seperti berpusat tepat di-tengah2 selangkanganku. Mendadak Tante Mery kembali berkata ” Ini pasti kamu sudah hampir keluar, dari pada nanti kotorin ranjang Tante hisap saja yah”.

Aku tidak mengerti apa yang dia maksud. Dengan tiba2 Tante Mery mengeluarkan lidahnya dan menjilat kepala kemaluan ku lalu menyusupinya perlahan kedalam mulutnya.Hampir saja aku melompat dari atas ranjang.

Karena bingung dan kaget, aku tidak tahu harus membikin apa, kecuali menekan pantatku keras kedalam ranjang. Tangannya segera disusupkan kebawah pinggulku dan mengangkatnya dengan perlahan dari atas ranjang.

Kemaluanku terangkat tinggi seperti hendak diperagakan dihadapan mukanya. Kembali lidahnya menjilat kepala kemaluan ku dengan halus, sembari me-nyedot kedalam mulutnya. Bibirnya merah merekah tampak sangat seksi menutupi seluruh kemaluan ku.

Mulut dan lidahnya terasa sangat hangat dan basah. Lidahnya dipermainkan dengan sangat mahir. Matanya tetap memandang mataku seperti untuk meyakinkanku. Tangannya kembali menggenggam kedua bijiku.

Kepalanya tampak turun naik disepanjang kemaluan ku, aku berasa geli setengah mati. Ini jauh lebih nikmat daripada memakai tangannya.Sekali2 Tante Mery juga menghisap kedua bijiku bergantian dengan gigitan2 kecil.

Dan perlahan turun kebawah menjilat lubang pantatku dan membuat lingkaran kecil dengan ujung lidahnya yang terasa sangat liar dan hangat. Aku hanya dapat berpegangan erat kebantal ku, sembari mencoba menahan rintihanku.

Kudekap mukaku dengan bantal, setiap sedotan kurasa seperti yang aku hendak menjerit. Napasku tidak dapat diatur lagi, pinggulku menegang, kepalaku mulai pening dari kenikmatan yang berkonsentrasi tepat diantara selangkanganku.

Mendadak kurasa kemaluan ku seperti akan meledak. Karena rasa takut dan panik, kutarik pinggulkukebelakang. Dengan seketika, kemaluan ku seperti mempunyai hidup sendiri, berdenyut dan menyemprot cairan putih yang lengket dan hangat kemuka dan kerambut Tante Mery.

Seluruh badanku bergetar dari kenikmatan yang tidak pernah kualami sebelumnya. Aku tidak sanggup untuk menahan kejadian ini. Aku merasa telah berbuat sesuatu kesalahan yang sangat besar. Dengan napas yang ter-engah2, aku meminta maaf kepada Tante Mery atas kejadian tersebut dan tidak berani untuk menatap wajahnya.

Tetapi Tante Mery hanya tersenyum lebar, dan berkata “Tidak apa2 kok, ini memang harus begini”, kembali dia menjilati cairan lengket itu yang mulai meleleh dari ujung bibirnya dan kembali menjilati semua sisa cairan itu dari kemaluan ku sehingga bersih.

“Tante suka kok, rasanya sedap”, tambahnya.Dengan penuh pengertian Tante Mery menerangkan bahwa cairan itu adalah air mani dan itu wajar untuk dikeluarkan sekali2. Kemudian dengan penuh kehalusan dia membersihkanku dengan handuk kecil basah dan mencium ku dengan lembut dikeningku.

Setelah semuanya mulai mereda, dengan malu2 aku bertanya “Apakah perempuan juga melakukan hal seperti ini?”.

Tante Mery menjawab “Yah, kadang2 kita orang perempuan juga melakukan itu, tapi caranya agak berbeda”.

Dan Tante Mery berkata yang kalau aku mau, dia dapat menunjukkannya. Tentu saja aku bilang yang aku mau menyaksikannya.Jari2 tangan Tante Mery yang lentik dengan perlahan mulai membuka kancing2 bajunya, memperagakan tubuhnya yang putih.

Waktu kutangnya dibuka buah dadanya melejit keluar dan tampak besar membusung dibandingkan dengan perutnya yang mengecil ramping. Kedua buah dadanya bergelayutan dan bergoyang dengan indah.

Dengan halus Tante Mery memegang kedua tanganku dan meletakannya diatas buah dadanya. Rasanya empuk, kejal dan halus sekali, ujungnya agak keras.Putingnya warna coklat tua dan agak besar. Tante Mery memintaku untuk menyentuhnya.

Karenabelum ada pengalaman apa2, aku pencet2 saja dengan kasar. Tante Mery kembali tersenyum dan mengajariku untuk mengelusnya per-lahan2. Putingnya agak sensitif, jadi kita harus lebih perlahan disana, katanya.

Tanganku mulai me-raba2 tubuh Tante Mery yang putih bersih itu. Kulitnya terasa sangat halus dan panas membara dibawah telapak tanganku. Napasnya memburu setiap kusentuh bagian yang tertentu. Aku mulai mempelajari tempat2 yang disukainya.

Tidak lama kemudian Tante Mery memintaku untuk menciumi tubuhnya. Ketika aku mulai menghisap dan menjilat kedua buah dadanya, putingnya terasa mengeras didalam mulutku.Napasnya semakin men-deru2, membuat buah dadanya turun naik bergoyang dengan irama.

Lidahku mulai menjilati seluruh buah dadanya sampai keduanya berkilat dengan air liurku Mukanya tampak gemilang dengan penuh gairah. Bibirnya yang merah merekah digigit seperti sedang menahan sakit. Roknya yang seksi dan ketat mulai tersibak dan kedua lututnya mulai melebar perlahan.

Pahanya yang putih seperti susu mulai terbuka menantang dengan gairahdihadapanku. Tante Mery tidak berhenti meng-elus2 dan memeluki tubuhku yang masih telanjang dengan kencang. Tangannya menuntun kepalaku kebawah kearah perutnya.

Semakin kebawah ciumanku, semakin terbuka kedua pahanya, roknya tergulung keatas. Aku mulai dapat melihat pangkal paha atasnya dan terlihat sedikit bulu yang hitam halus mengintip dari celah celana dalamnya.

Mataku tidak dapat melepaskan pemandangan yang sangat indah itu.Kemudian Tante Mery berdiri tegak dihadapanku dengan perlahan Tante Mery mulai membuka kancing roknya satu persatu dan membiarkan roknya terjatuh dilantai.

Tante Mery berdiri dihadapanku seperti seorang putri khayalan dengan hanya memakai celana dalamnya yang putih, kecil, tipis dan sexy. Tangannya ditaruh dipinggulnya yang putih dan tampak serasi dengan kedua buah dadanya diperagakannya dihadapanku.

Pantatnya yang hanya sedikit tertutup dengan celana dalam seksi itu bercuat menungging kebelakang. Tidak kusangka yang seorang wanita dapat terlihat begitu indah dan menggiurkan. Aku sangat terpesona memandang wajah dan keindahan tubuhnya yang bercahaya dan penuh gairah.

Tante Mery menerangkan yang bagian tubuh bawahnya juga harus dimainkan. Sambil merebahkan dirinya diranjangku, Tante Mery memintaku untuk menikmati bagiannya yang terlarang. Aku mulai me-raba2 pahanya yang putih dan celana dalamnya yang agak demak dan bernoda. Pertama2 tanganku agak bergemetar,

Basah dari keringat dingin, tetapi melihat Tante Mery sungguh2 menikmati semua perbuatanku dan matanya juga mulai menutup sayu, napasnya semakin mengencang. Aku semakin berani dan lancang merabanya.

Kadang2 jariku kususupkan kedalam celana dalamnya menyentuh bulunya yang lembut. Celana dalamnya semakin membasah, noda dibawah celana dalamnya semakin membesar. Pingulnya terangkat tinggi dari atas ranjang.

Kedua pahanya semakin melebar dan kemaluannya tercetak jelas dari celana dalam nya yang sangat tipis itu.Setelah beberapa lama, Tante Mery dengan merintih memintaku untuk membuka celana dalamnya.

Pinggulnya diangkat sedikit supaya aku dapat menurunkan celana dalamnya kebawah. Tante Mery berbaring diatas ranjang tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya. Disitu untuk pertama kali aku dapat menyaksikan kemaluan seorang wanita dari jarak yang dekat dan bukan hanya dari majalah.

Bulu2 diatas kemaluannya itu tampak hitam lembut, tumbuh dengan halus dan rapi dicukur, sekitar kemaluannya telah dicukur hingga bersih membuat lekuk kemaluannya tampak dari depan. Tante Mery membuka selangkangannya dengan lebar dan menyodorkan kewanitaannya kepadaku tanpa sedikit rasa malu.

Sembari bangkit duduk ditepi ranjang, Tante Mery memintaku untuk berjongkok diantara kedua pahanya untuk memperhatikan vagina nya dari jarak dekat. Dengan penuh gairah kedua jarinya mengungkap bibir kemaluannya yang rada tebal dan ke-hitam2an dan memperagakan kepadaku lubang vagina nya yang basah dan berwarna merah muda.

Dengan nada yang ramah, Tante Mery menggunakan jari tangannya sendiri dengan halus, menerangkan kepadaku satu persatu seluruh bagian tubuh bawahnya. Tempat2 dan cara2nya untuk menyenangkan seorang wanita.

Kemudian Tante Mery mulai menggunakan jari tangan ku untuk di-raba2kan kebagian tubuh bawahnya. Rasanya sangat hangat, lengket dan basah. Klitorisnya semakin membesar ketika aku menyentuhnya. Aroma dari vagina nya mulai memenuhi udara dikamarku, aromanya menyenangkan dan berbau bersih.

Dari dalam lubang vaginanya per-lahan2 keluar cairan lengket berwarna putih dan kental dan mulai melumuri semua permukaan lubang vagina nya. Mengingat apa yang dia sudah lakukan dengan air maniku, aku kembali bertanya

“Boleh ngga saya mencicipi air mani Tante?” Tante Mery hanya mengangguk kecil dan tersenyum.Perlahan aku mulai menjilati pahanya yang putih dan sekitar lubang vagina Tante Mery yang merah dan lembut.

Cairan nya mulai mengalir keluar dengan deras keselangkangannya. Lidahku menangkap tetesan itu dan mengikuti aliran cairan itu sampai balik keasal lubangnya. Rasanya rada keasMeryn dengan berbau sangat khas, tidak seperti kata orang2, Tante Mery cairan sangat bersih dan tidak berbau amis.

Begitu pertama aku mencicipi alat kelamin Tante Mery, aku tahu yang aku dapat menjilatinya terus2an, karena aku sangat menyukai rasanya. Tante Mery mendadak menjerit kecil ketika lidahku menyentuh klitorisnya.

Aku tersentak takut karenamungkin aku telah membuatnya sakit. Tetapi Tante Mery kembali menjelaskan bahwa itu hal biasa kalau seseorang mengerang waktu merasa enak.Semakin lama, aku semakin berani untuk menjilati dan menghisapi semua lubang vagina dan klitoris nya. Pinggulnya diangkat naik tinggi.

Tangannya tidak berhenti memeras buah dadanya sendiri, cengkramannya semakin menguat. Napasnya sudah tidak beraturan lagi. Kepalanya terbanting kekanan dan kekiri. Pinggul dan pahanya kadang2 mengejang kuat, berputar dengan liar.

Kepalaku terkadang tergoncang keras oleh dorongan dari kedua pahanya. Tangannya mulai menjambak rambutku dan menekan kepalaku erat kearah selangkangannya. Dari bibirnya yangmungil itu keluar desah dan rintihan memanggil namaku, seperti irama ditelingaku.

Keringatnya mulai keluar dari setiap pori2 tubuhnya membuat kulitnya tampak bergemilang dibawah cahaya lampu. Matanya sudah tidak memandangku lagi, tapi tertutup rapat oleh bulu mata yang panjang dan lentik.

Sembari merintih Tante Mery memintaku untuk me-nyodok2kan lidahku kedalam lubang vaginanya dan mempercepat iramaku. Seluruh mukaku basah tertutup oleh cairan yang bergairah itu.Kemudian Tante Mery memintaku untuk berbalik supaya dia juga dapat menghisap kemaluan ku bersamaan.

Setelah melumuri kedua buah dadanya yang busung itu dengan Baby Oil, Tante Mery meng-gosok2kan dan menghimpit kemaluan ku yang sudah keras kembali diantara buah dadanya, dan menghisapinya bergantian.

Kemudian Tante Mery memintaku untuk lebih berkonsentrasi di klitorisnya dan menyarankanku untuk memasuki jariku kelubang vaginanya. Dengan penuh gairah aku pertama kalinya merasakan bahwa kelamin wanita itu dapat berasa begitu panas dan basah.

Otot vaginanya yang terlatih terasa berdekup memijiti jari tanganku perlahan. Bibir dan lubang vaginanya tampak merekah, berkilat dan semakin memerah. Klitorisnya bercahaya dan membesar seperti ingin meledak.

Setelah tidak beberapa lama, Tante Mery memintaku untuk memasuki satu jariku kedalam lubang pantatnya yang ketat.Dengan bersamaan waktu, Tante Mery juga masuki satu jarinya pula kedalam lubang pantatku.

Tangannya dipercepat mengocok kemaluan ku. Pahanya mendekap kepalaku dengan keras. Pinggulnya mengejang keras. Terasa dilidahku urat2 sekitar dinding vaginanya berkontraksi keras ketika dia keluar. Aku menjerit keras ber-sama2 Tante Mery sembari memeluknya dengan erat, kita berdua keluar hampir bersamaan.

Kali ini Tante Mery menghisap habis semua air maniku dan terus menghisapi kemaluan ku sampai kering.Setelah itu kita berbaring telanjang terengah mengambil napas. Badannya yang berkeringat dan melemah, terasa sangat hangat memeluki tubuhku dari belakang, tangannya tetap menghangati dan mengenggam kemaluanku yang mengecil.

Aroma dari yang baru saja kita lakukan masih tetap memenuhi udara kamarku. Wajahnya tampak gemilang bercahaya menunjukan kepuasan, senyumnya kembali menghiasi wajahnya yang terlihat lelah.

Lalu kita jatuh tertidur berduaan dengan angin yang sejuk meniup dari jendela yang terbuka. Setelah bangun tidur, kita mandi bersama. Waktu berpakaian Tante Mery menciumku dibibir dengan lembut dan berjanji yangnanti malam dia akan mengajari bagaimana caranya bila kejantananku dimasuki kedalam kewanitaannya.

Incoming search terms:

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *