Cerita Dewasa - Tubuhku Dinikmati Oknum Tak Bertanggung Jawab
Cerita Dewasa - Tubuhku Dinikmati Oknum Tak Bertanggung Jawab

Cerita Dewasa – Tubuhku Dinikmati Oknum Tak Bertanggung Jawab

Posted on
Agen Betting Terpercaya Obat Pembesar Penis
Obat Pembesar Penis Obat Pembesar Penis

Cerita Dewasa – Tubuhku Dinikmati Oknum Tak Bertanggung Jawab | Aku pertama kenal Erma ketika melihatnya menjadi model cover di sebuah majalah di Jakarta, kemudian ia juga menjadi bintang sinetron Abad 21. Erma berumur 17 tahun, cantik, kulitnya putih mulus, ramah dan yang paling menarik perhatian orang-orang adalah buah dadanya yang bundar dan padat berisi. Semua orang yang menatap Erma pandangannya akan langsung tertarik ke arah buah dadanya yang membusung.

Cerita Dewasa - Tubuhku Dinikmati Oknum Tak Bertanggung Jawab
Cerita Dewasa – Tubuhku Dinikmati Oknum Tak Bertanggung Jawab

Cerita Dewasa – Tubuhku Dinikmati Oknum Tak Bertanggung Jawab | Tidak terlalu besar memang, tapi sangat proporsional dengan tubuh dan wajah Erma. Aku berkenalan dengannya, pertama melalui surat kemudian bertemu, sesekali menelepon dirinya. Lama-kelamaan kita semakin sering bertemu dan percakapan yang ada semakin menjurus ke hal-hal yang pribadi. Akhirnya aku memberanikan diri untuk mengajaknya keluar makan malam.

 

Cerita Dewasa – Tubuhku Dinikmati Oknum Tak Bertanggung Jawab | Suatu hari aku memberanikan diri untuk mengajaknya dan ternyata Erma senang sekali mendengar ajakan aku, dan langsung setuju. Aku gelisah sekali menunggu pada saat menjemput Erma di rumahnya.Setelah pulang kerja dan berganti pakaian aku menjemput Erma, untuk kemudian makan malam di sebuah restoran. Di sana kami bercakap-cakap panjang lebar, setelah itu dilanjutkan sebuah diskotik untuk sedikit menggoyangkan tubuh dan minum.

Di tengah-tengah percakapan di diskotik, Erma mengajak aku untuk kembali ke rumahnya dan melanjutkan sisa malam itu di rumahnya. Bagaimana aku bisa menolak tawaran itu?

 

Cerita Dewasa – Tubuhku Dinikmati Oknum Tak Bertanggung Jawab | Sepanjang perjalanan pulang Erma berkata bahwa ia belum pernah mengalami hari yang menyenangkan seperti yang baru ia alami malam itu, dan ia juga berkata, di rumah nanti giliran dirinya yang akan membuat diri aku tidak akan melupakan malam ini.

Aku begitu bergairah dan berhasrat untuk lekas-lekas sampai ke rumah Erma, ketika tanpa sadar aku mengendarai mobil melebihi batas maksimal kecepatan di jalan.

Tiba-tiba aku tersadar ketika di sebelah kanan sudah ada mobil Polantas yang berusaha menghentikan mobil aku. Aku meminggirkan mobil di tempat parkir sebuah toko dan menunggu Polantas tadi mendekati mobil kami.

Ia bertanya hendak ke mana kami sampai-sampai kami membawa mobil itu melebihi batas kecepatan. Rupanya alasan aku tidak masuk akal sehingga Polantas tadi meminta STNK dan SIM aku.

Setelah melihat surat-surat itu Polantas itu menjengukkan kepalanya ke dalam mobil kami dan lama sekali mengamati Erma yang duduk terdiam.

“Anda harus meninggalkan mobil Anda di sini dan ikut aku ke kantor”, perintah Polantas tadi. Akhirnya sepuluh menit kemudian kami sampai ke sebuah kantor polisi yang terpencil di pinggir kota.

Waktu itu sudah lewat pukul 11 malam, dan dalam kantor polisi itu tidak terdapat siapa pun kecuali seorang Sersan yang bertugas jaga dan Polantas yang membawa kami.

Ketika kami masuk, Sersan itu memandangi tubuh Erma dari bawah hingga ke atas, kelihatan sekali ia menyukai Erma. Kami dimasukkan ke dalam sel terpisah, saling berseberangan.

Sepuluh menit kemudian, Polantas yang berumur sekitar 40-an dan berbadan gemuk dan Sersan yang tinggi besar berbadan hitam, dan umurnya kira-kira 45 tahun kembali ke ruang tahanan.

Polantas tadi berkata, “Kalian seharusnya jangan mengemudi sampai melebihi batas kecepatan yang ada.

Tapi kita semua bener-benar kagum, soalnya dari semua yang kami tangkap baru kali ini kita dapat orang yang cantik seperti kamu.” Sersan tadi menimpali, “Betul sekali, dia bener-bener kualitas nomer satu!” Aku sangat takut mendengar nada bicara mereka, begitu juga Erma yang terus-menerus ditatap oleh mereka berdua.

Mereka lalu membuka sel Erma dan masuk ke dalam. “Sekarang denger gadis manis, kalau kamu berkelakuan baik, kita akan lepasin kamu dan pacar kamu itu. Mengerti!” Sersan tadi langsung memegangi kedua tangan Erma sementara Polantas menarik kaos yang dikenakan Erma ke atas.

Dalam sekejap seluruh pakaian Erma berhasil dilucuti tanpa perlawanan berarti dari Erma yang terus dipegangi oleh Sersan.

“Wow, lihat dadanya.” Erma terus meronta-ronta tanpa hasil, sementara Sersan yang tampaknya sudah bosan dengan perlawanan Erma, melemparkan tubuh Erma hingga jatuh telentang ke atas ranjang besi yang ada di sel Erma. Dan dengan cepat diambilnya borgol dan diborgolnya tangan Erma ke rangka di atas kepala Erma.

Kemudian mereka dengan leluasa menggerayangi tubuh Erma. Mereka meremas-remas dan menarik buah dada Erma, kemudian memilin-milin puting susunya sehingga sekarang buah dada Erma mengeras dan puting susunya mengacung ke atas. Kadang mereka mengigit puting susu Erma, sedangkan Erma hanya bisa meronta dan menjerit tak berdaya.

Aku berdiri di dalam sel di seberang Erma tak berdaya untuk menolong Erma yang sedang dikerubuti oleh dua orang itu. Kedua polisi itu lalu melepaskan pakaian mereka dan terlihat jelas kedua batang kemaluan mereka sudah keras dan tegang dan siap untuk memperkosa Erma.

Polantas mempunyai batang kemaluan paling tidak sekitar 25 senti, dan Sersan mempunyai batang kemaluan yang lebih besar dan panjang. Erma menjerit-jerit minta agar mereka berhenti, tapi kedua polisi itu tetap mendekatinya.

“Lebih baik kamu tutup mulut kamu atau kita berdua bisa bikin ini lebih menyakitkan daripada yang kamu kira.” kata Polantas.
“Sekarang mendingan kamu siap-siap buat muasin kita dengan badan kamu yang bagus itu!”

“Dia pasti sempit sekali”, kata Sersan sambil memasukan jari-jarinya ke lubang kemaluan Erma.
Ia menggerakkan jarinya keluar masuk, membuat Erma menggelinjang kesakitan dan berusaha melepaskan diri.

“Betul kan, masih sempit sekali.”

Kemudian Polantas tadi naik ke atas ranjang di antara kedua kaki Erma. Kemudian mereka membuka kaki Erma lebar-lebar dan Polantas memasukkan batang kemaluannya ke dalam lubang senggama Erma.

Erma mengeluarkan jeritan yang keras sekali, ketika perlahan batang kemaluan Polantas membuka bibir kemaluan, dan masuk senti demi senti tanpa berhenti. Kadang ia menarik sedikit batang kemaluannya untuk kemudian didorongnya lebih dalam lagi ke lubang kemaluan Erma.

Sementara itu, Sersan naik dan mendekati wajah Erma, mengelus-elus wajah Erma dengan batang kemaluannya. Mulai dari dahi, pipi kemudian turun ke bibir. Erma menggeleng-gelengkan kepalanya agar tidak bersentuhan dengan batang kemaluan Sersan yang hitam.

“Ayo dong manis, buka mulut kamu”, kata Sersan sambil meletakkan batang kemaluannya di bibir Erma.
“Kamu belum pernah ngerasain punya polisi kan?” Erma tak bergeming.

“Buka!” bentak Sersan.
“Buka mulut kamu, brengsek!” Perlahan mulut Erma terbuka sedikit, dan Sersan langsung memasukkan batang kemaluannya ke dalam mulut Erma.

Mulut Erma terbuka hingga sekitar 6 senti agar semua batang kemaluan Sersan bisa masuk ke dalam mulutnya. Batang kemaluan Sersan mulai bergerak keluar masuk di mulut Erma, aku melihat tidak semua batang kemaluan Sersan dapat masuk ke mulut Erma, batang kemaluan Sersan terlalu panjang dan besar untuk bisa masuk seluruhnya dalam mulut Erma.

Ketika Sersan menarik batang kemaluannya terlihat ada cairan yang keluar dari batang kemaluannya. Julurin lidah kamu!” Erma membuka mulutnya dan mengeluarkan lidahnya. Sersan kemudian memegang batang kemaluannya dan mengusapkan kepala batang kemaluannya ke lidah Erma, membuat cairan kental yang keluar tadi menempel ke lidah Erma.

“San, dia nggak mungkin bisa masukin punya Sersan ke mulutnya, biar aku coba. Gantian!” Mereka kemudian bertukar tempat, Sersan sekarang ada di antara kaki Erma dan Polantas berjongkok di dekat wajah Erma. Sersan mulai mendorong batang kemaluannya masuk ke liang senggama Erma. Terlihat sekali dengan susah payah batang kemaluan Sersan yang besar itu membuka bibir kemaluan Erma yang masih sempit.

Polantas, mengacungkan batang kemaluannya ke mulut Erma. “Kamu mungkin nggak bisa masukin punya Sersan ke mulut kamu, tapi kamu musti ngerasain punya aku ini, seluruhnya.”

Dengan kasar ia mendorong batang kemaluannya masuk ke mulut Erma, sampai akhirnya batang kemaluan itu masuk seluruhnya hingga sekarang testis Polantas berada di wajah Erma. Ia kemudian menarik batang kemaluannya sebentar untuk kemudian didorongnya kembali masuk ke tenggorokan Erma. Setelah lima kali, keluar masuk, Polantas sudah tidak bisa lagi menahan orgasmenya.

“Aku keluuarrhh. Aaahhh!” Ia tidak menarik batang kemaluannya keluar dari mulut Erma, batang kemaluannya tampak bergetar berejakulasi di tenggorokan Erma, menyemprotkan sperma masuk ke tenggorokannya. Aku mendengar Erma berusaha menjerit, ketika sperma Sersan mengalir masuk ke perutnya.

Terlihat sekali Sersan yang sedang mencapai puncak kenikmatan tidak menyadari Erma meronta-ronta berusaha mencari udara.

“Iyya… yaah! Telleeen semuaa! Aaahhh… aahhh… nikhmaattt!”

Ketika selesai ia menarik keluar batang kemaluannya dan Erma langsung megap-megap menghirup udara, dan terbatuk-batuk mengeluarkan sperma yang lengket dan berwarna putih.

Erma berusaha meludahkan sperma yang masih ada di mulutnya. Polantas tertawa melihat Erma terbatuk-batuk, “Kenapa? Nggak suka rasanya? Tenang aja, besok pagi, kamu pasti sudah terbiasa sama itu!”

Sementara Sersan yang masih mengerjai kemaluan Erma sekarang malah memegang pinggul Erma dan membalik tubuh Erma. Erma dengan tubuh berkeringat dan sperma yang menempel di wajahnya tersadar apa yang akan dilakukan Sersan pada dirinya, ketika dirasanya batang kemaluan Sersan mulai menempel di lubang anusnya.

“Jangan Pak, jangan! Ampun Pak, ampun, jangan…”

“Aaahkk! Jangaaan!”

Erma menjerit-jerit ketika kepala batang kemaluan Sersan berhasil memaksa masuk ke liang anusnya. Wajah Erma pucat merasakan sakit yang amat sangat ketika batang kemaluan Sersan mendorong masuk ke liang anusnya yang kecil.

Sersan mendengus-dengus berusaha memasukkan batang kemaluannya ke dalam anus Erma. Perlahan, senti demi senti batang kemaluan itu tenggelam masuk ke anus Erma.

Erma terus menjerit-jerit minta ampun ketika perlahan batang kemaluan Sersan masuk seluruhnya ke anusnya. Akhirnya ketika seluruh batang kemaluan Sersan masuk, Erma hanya bisa merintih dan mengerang kesakitan merasakan benda besar yang sekarang masuk ke dalam anusnya.

Sersan beristirahat sejenak, sebelum mulai bergerak keluar masuk. Kembali Erma menjerit-jerit. Sersan terus bergerak tanpa belas kasihan.

Batang kemaluannya bergerak keluar masuk dengan cepat, membuat testisnya menampar-nampar pantat Erma. Sersan tidak peduli mendengar Erma berteriak kesakitan dan menjerit minta ampun ketika sodomi itu berlangsung. Aku melihat berulang kali batang kemaluan Sersan keluar masuk anus Erma tanpa henti.

Akhirnya Sersan mencapai orgasme ia menarik batang kemaluannya dan sperma menyemprot keluar menyembur ke punggung Erma, kemudian menyembur ke pantat Erma dan mengalir turun ke pahanya, dan terakhir Sersan kembali memasukkan batang kemaluannya ke anus Erma lagi dan menyemprotkan sisa-sisa spermanya ke dalam anus Erma.

Sersan kemudian melepaskan pegangannya dari pinggul Erma dan berdua dengan Polantas mereka keluar dari sel dan menguncinya. Aku masih dapat mendengar Sersan berkata pada Polantas, “Pantat paling hebat yang pernah ada. Dia bener-bener sempit!”

Dini hari, ketika Erma kelelahan menangis dan merintih, mereka berdua dengan langkah sempoyongan dan dengan botol bir di tangan masuk kembali ke dalam sel Erma.

Mereka menendang tubuh Erma agar terbangun dan mereka mulai memperkosanya lagi. Sekarang Polantas menyodomi Erma sementara Sersan berbaring di bawah Erma dan memasukkan batang kemaluannya ke dalam kemaluan Erma. Kemudian mereka berganti posisi.

Mereka juga menyiksa Erma dengan memasukkan botol bir ke dalam liang kemaluan dan anusnya sementara batang kemaluan mereka dimasukkan ke mulut Erma.

Mereka terus berganti posisi dan Erma terus menerus menjerit dan menjerit hingga akhirnya ia kelelahan dan tak sadarkan diri. Melihat itu polisi-polisi tersebut hanya tertawa terbahak-bahak meninggalkan tubuh Erma yang memar-memar dan belepotan sperma dan bir.

Keesokan paginya, Sersan masuk dan membuka sel kami.

“Kalian boleh pergi.”

Aku membantu Erma mengenakan pakaiannya. Tubuhnya lemah lunglai berbau bir dan sperma-sperma kering masih menempel di tubuhnya.

Kami pergi dari kantor polisi itu dan akhirnya sampai ke rumah Erma. Kemudian aku membersihkan tubuh Erma dan menidurkannya. Ketika aku tinggal, aku mendengar ia merintih, “Jangan Pak, ampun Pak, sakit… ampuunn… sakiiit…”.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *