Cerita Sex 2015 Kisah Anak Ibu Kost Ketagihan Ngentot

Cerita Sex 2015 Kisah Anak Ibu Kost Ketagihan Ngentot

Posted on
Agen Betting Terpercaya Obat Pembesar Penis
Obat Pembesar Penis Obat Pembesar Penis

Cerita Sex 2015 Kisah Anak Ibu Kost Ketagihan Ngentot – Aku adalah mahasiswa tingkat akhir aku kuliah di kota Surakarta umurku sekarang 24 tahun dengan badan tinggi tegap mungkin aku dari kecil suka kegiatan pramukan dan suka olahraga juga, bukannya sombong wajahku juga ganterng katanya mirip aliando pemain sinetron. Aku sudah punya pacar, dan serius kami mau menikah.

Cerita Sex 2015 Kisah Anak Ibu Kost Ketagihan Ngentot

Cerita Sex 2015 Kisah Anak Ibu Kost Ketagihan Ngentot – Tempat kos-ku dan tempat kos-nya hanya berjarak sekitar 700 m. Aku sendiri sudah dipegangi kunci kamar kosnya. Walaupun demikian bukan berarti aku sudah berpacaran tanpa batas dengannya. Dalam masalah pacaran, kami sudah saling cium-ciuman, gumul-gumulan, dan remas-remasan.

 

Cerita Sex 2015 Kisah Anak Ibu Kost Ketagihan Ngentot – Namun semua itu kami lakukan dengan masih berpakaian. Toh walaupun hanya begitu, kalau voltase-ku sudah amat tinggi, aku dapat muntah juga. Dia adalah seorang yang menjaga keperawanan sampai dengan menikah, karena itu dia tidak mau berhubungan sex sebelum menikah.

Aku menghargai prinsipnya tersebut. Karena aku belum pernah pacaran sebelumnya, maka sampai saat itu aku belum pernah merasakan vagina perempuan. Pacarku seorang anak bungsu. Kecuali kolokan, dia juga seorang penakut, sehingga sampai jam 10 malam minta ditemani. Sehabis mandi sore, aku pergi ke kosnya.

 

Cerita Sex 2015 Kisah Anak Ibu Kost Ketagihan Ngentot – Sampai dia berangkat tidur. aku belajar atau menulis tugas akhir dan dia belajar atau mengerjakan tugas-tugas kuliahnya di ruang tamu. Kamar kos-nya sendiri berukuran cukup besar, yakni 3mX6m. Kamar sebesar itu disekat dengan triplex menjadi ruang tamu dengan ukuran 3mX2.5m dan ruang tidur dengan ukuran 3mX3.5m.

Lobang pintu di antara kedua ruang itu hanya ditutup dengan kain korden. lbu kost-nya mempunyai empat anak, semua perempuan. Semua manis-manis sebagaimana kebanyakan perempuan Sunda. Anak yang pertama sudah menikah, anak yang kedua duduk di kelas 3 SMA, anak ketiga kelas I SMA, dan anak bungsu masih di SMP. Menurut desas-desus yang sampai di telingaku, menikahnya anak pertama adalah karena hamil duluan.

Kemudian anak yang kedua pun sudah mempunyai prestasi. Nama panggilannya Eri. Dia sudah pernah hamil dengan pacarya, namun digugurkan. Menurut penilaianku, Eri seorang playgirl. Walaupun sudah punya pacar, pacarnya kuliah di suatu politeknik, namun dia suka mejeng dan menggoda laki-laki lain yang kelihatan keren.

Kalau aku datang ke kos pacarku, dia pun suka mejeng dan bersikap genit dalam menyapaku. lka memang mojang Sunda yang amat aduhai. Usianya akan 18 tahun. Tingginya 160 cm. Kulitnya berwarna kuning langsat dan kelihatan licin. Badannya kenyal dan berisi. Pinggangnya ramping. Buah dadanya padat dan besar membusung. Pinggulnya besar, kecuali melebar dengan indahnya juga pantatnya membusung dengan montoknya.

Untuk gadis seusia dia, mungkin payudara dan pinggul yang sudah terbentuk sedemikian indahnya karena terbiasa dinaiki dan digumuli oleh pacarnya. Paha dan betisnya bagus dan mulus. Lehernya jenjang. Matanya bagus. Hidungnya mungil dan sedikit mancung. Bibirnya mempunyai garis yang sexy dan sensual, sehingga kalau memakai lipstik tidak perlu membuat garis baru, tinggal mengikuti batas bibir yang sudah ada.

Rambutnya lebat yang dipotong Ipank dengan indahnya. Sore itu sehabis mandi aku ke kos pacarku seperti biasanya. Di teras rumah tampak Eri sedang mengobrol dengan dua orang adiknya. Eri mengenakan baju atas you can see dan rok span yang pendek dan ketat sehingga lengan, paha dan betisnya yang mulus itu dipertontonkan dengan jelasnya.

Kak Ipank, ngapel ke Mbak Dina? Wah sedang nggak ada tuh. Tadi pergi sama dua temannya. Katanya mau bikin tugas, sapa Eri dengan centilnya. He masa? balasku. Iya Sudah, ngapelin Eri sajalah Mas Ipank, kata Eri dengan senyum menggoda. Edan! Cewek Sunda satu ini benar-benar menggoda hasrat. Kalau mau mengajak beneran aku tidak menolak nih, he-he-he Ah, neng Eri macam-macam saja, tanggapanku sok menjaga wibawa. Kak Dai belum datang? Pacar Eri namanya Daniel, namun Eri memanggilnya Kak Dai.

Mungkin Dai adalah panggilan akrab atau panggilan masa kecil si Daniel. Daniel berasal dan Bogor. Dia ngapeli anak yang masih SMA macam minum obat saja. Dan pulang kuliah sampai malam hari. Lebih hebat dan aku, dan selama ngapel waktu dia habiskan untuk ngobrol. Atau kalau setelah waktu isya, dia masuk ke kamar Eri.

Kapan dia punya kesempatan belajar? Wah dua bulan ini saya menjadi singgel lagi. Kak Dai lagi kerja praktek di Riau. Makanya carikan teman Mas Ipank buat menemani Eri dong, biar Eri tidak kesepian Tapi yang keren lho, kata Eri dengan suara yang amat manja. Edan si playgirl Sunda mi. Dia bukan tipe orang yang ngomong begitu bukan sekedar bercanda, namun tipe orang yang suka nyerempet-nyerempet hat yang berbahaya. Neng Eri ini Nanti Kak Dainya ngamuk dong. Kak Dai kan tidak akan tahu Aku kembali memaki dalam hati.

Perempuan Sunda macam Eri ini memang enak ditiduri. Enak digenjot dan dinikmati kekenyalan bagian-bagian tubuhnya. Aku mengeluarkan kunci dan membuka pintu kamar kos Dina. Di atas meja pendek di ruang tamu ada sehelai memo dari Dina. Sambil membuka jendela ruang depan dan ruang tidur, kubaca isi memo tadi. Kak Ipankby, gue ngerjain tugas kelompok bersama Niken dan Wiwin.

Tugasnya banyak, jadi gue malam ini tidak pulang. Gue tidur di rumah Wiwin. Di kulkas ada jeruk, ambil saja. Soen sayang, Dina Aku mengambil bukuku yang sehari-harinya kutinggal di tempat kos Di. Sambil menyetel radio dengan suara perlahan, aku mulai membaca buku itu. Biarlah aku belajar di situ sampai jam sepuluh malam.

Sedang asyik belajar, sekitar jam setengah sembilan malam pintu diketok dan luar. Tok-tok-tok Kusingkapkan korden jendela ruang tamu yang telah kututup pada jam delapan malam tadi, sesuai dengan kebiasaan pacarku. Sepertinya Eri yang berdiri di depan pintu. Mbak Di Mbak Dina, terdengar suara Eri memanggil-manggil dan luar. Aku membuka pintu. Mbak Dina sudah pulang? tanya Eri. Belum. Hari ini Dina tidak pulang.

Tidur di rumah temannya karena banyak tugas. Ada apa? Mau pinjam kalkulator, mas Ipank. Sebentar saja. Buat bikin pe-er. Ng bolehlah. Pakai kalkulatorku saja, asal cepat kembali. Beres deh mas Ipank. Eri berjanji, kata Eri dengan genit. Bibirnya tersenyum manis, dan pandang matanya menggoda menggemaskan. KuberErin kalkulatorku pada Eri. KetEri berbalik, kutatap tajam-tajam tubuhnya yang aduhai.

Pinggulnya yang melebar dan montok itu menggial ke kiri-kanan, seolah menantang diriku untuk meremas*-remasnya. Sialan! Kontholku jadi berdiri. Si boy-ku ini responsif sekali kalau ada cewek cakep yang enak digenjot. Sepeninggal Eri, sesaat aku tidak dapat berkonsentrasi. Namun kemudian kuusir pikiran yang tidak-tidak itu.

Kuteruskan kembali membaca textbook yang menunjang penulisan tugas sarjana itu. Tok-tok-tok! Baru sekitar limabelas menit pintu kembali diketok. Kak Ipank Mas Ipank, terdengar Eri memanggil lirih. Pintu kubuka. Mendadak kontholku mengeras lagi. Di depan pintu berdiri Eri dengan senyum genitnya. Bajunya bukan atasan you can see yang dipakai sebelumnya.

Dia menggunakan baju yang hanya setinggi separuh dada dengan Ikatan tali ke pundaknya. Baju tersebut berwarna kuning muda dan berbahan mengkilat. Dadanya tampak membusung dengan gagahnya, yang ujungnya menonjol dengan tajam dan batik bajunya.

Sepertinya dia tidak memakai BH. Juga, bau harum sekarang terpancar dan tubuhnya. Tadi, bau parfum harum semacam ini tidak tercium sama sekali, berarti datang yang kali ini si Eri menyempatkan diri memakai parfum. Kali ini bibirnya pun dipolesi lipstik pink. Ini kalkulatornya, Mas Ipank, kata Eri manja, membuyarkan keterpanaanku. Sudah selesai. Neng Eri? tanyaku basa-basi. Sudah Mas Ipank, namun boleh Eri minta diajari MatematEri? 0, boleh saja kalau sekiranya bisa.

Tanpa kupersilakan Eri menyelonong masuk dan membuka buku matematEri di atas meja tamu yang rendah. Ruang tamu kamar kos pacarku itu tanpa kursi. Hanya digelari karpet tebal dan sebuah meja pendek dengan di salah satu sisinya terpasang rak buku. Aku pun duduk di hadapannya, sementara pintu masuk tertutup dengan sendirinya dengan perlahan.

Memang pintu kamar kos pacarku kalau mau disengaja terbuka harus diganjal potongan kayu kecil. Ini mas Ipank, Eri ada soal tentang bunga majemuk yang tidak tahu cara penyelesaiannya. Eri mencari-cari halaman buku yang akan ditanyakannya. Menunggu halaman itu ditemukan, mataku mencari kesempatan melihat ke dadanya. Amboi! Benar, Eri tidak memakai bra.

Dalam posisi agak menunduk, kedua gundukan payudaranya kelihatan sangat jelas. Sungguh padat, mulus, dan indah. Kontholku terasa mengeras dan sedikit berdenyut-denyut. Halaman yang dicari ketemu. Eri dengan centilnya membaca soal tersebut. Soalnya cukup mudah. Aku menerangkan sedikit dan memberitahu rumusnya, kemudian Eri menghitungnya. Sambil menunggu Eri menghitung, mataku mencuri pandang ke buah dada Eri.

Uhhh ranum dan segarnya. Kok sepi? Mamah, Ema, dan Nur sudah tidur? tanyaku sambil menelan ludah. Kalau bapaknya tidak aku tanyakan karena dia bekerja di Cirebon yang pulangnya setiap akhir pekan. Sudah. Mamah sudah tidur jam setengah delapan tadi. Kemudian Erna dan Nur berangkat tidur waktu Eri bermain-main kalkulator tadi, jawab Eri dengan tatapan mata yang menggoda. Hasratku mulai naik. Kenapa tidak kusetubuhi saja si Eri. Mumpung sepi.

Orang-orang di rumahnya sudah tidur. Kamar kos sebelah sudah sepi dan sudah mati lampunya. Berarti penghuninya juga sudah tidur. Kalau kupaksa dia meladeni hasratku, tenaganya tidak akan berarti dalam melawanku. Tetapi mengapa dia akan melawanku? jangan-jangan dia ke sini justru ingin bersetubuh denganku.

Soal tanya Matematika, itu hanya sebagai atasan saja. Bukankah dia menyempatkan ganti baju, dari atasan you can see ke atasan yang memamerkan separuh payudaranya? Bukankah dia datang lagi dengan menyempatkan tidak memakai bra? Bukankah dia datang lagi dengan menyempatkan memakai parfum dan lipstik? Apa lagi artinya kalau tidak menyodorkan din? Tiba-tiba Eri bangkit dan duduk di sebelah kananku. Kak Ipank ini benar nggak? tanya Eri. Ada kekeliruan di tengah jalan saat Eri menghitung. Antara konsentrasi dan menahan nafsu yang tengah berkecamuk, aku mengambil pensil dan menjelaskan kekeliruannya.

Tiba-tiba Eri lebih mendekat ke arahku, seolah mau memperhatErin hal yang kujelaskan dan jarak yang lebih dekat. Akibatnya gumpalan daging yang membusung di dadanya itu menekan lengan tangan kananku. Terasa hangat dan lunak, namun ketEri dia lebih menekanku terasa lebih kenyal. Dengan sengaja lenganku kutekankan ke payudaranya. Ih Mas Ipank nakal deh tangannya, katanya sambil merengut manja.

Dia pura-pura menjauh. Lho, yang salah kan Neng Eri duluan. Buah dadanya menyodok-nyodok lenganku, jawabku. lka cemberut. Dia mengambil buku dan kembali duduk di hadapanku. Dia terlihat kembali membetulkan yang kesalahan, namun menurut perasaanku itu hanya berpura-pura saja.

Aku merasa semakin ditantang. Kenapa aku tidak berani? Memangnya aku impoten? Dia sudah berani datang ke sini malam-malam sendirian. Dia menyempatkan pakai parfum. Dia sengaja memakai baju atasan yang memamerkan gundukan payudara. Dia sengaja tidak pakai bra. Artinya, dia sudah mempersilakan diriku untuk menikmati kemolekan tubuhnya.

Tinggal aku yang jadi penentunya, mau menyia-siakan kesempatan yang dia berErin atau memanfaatkannya. Kalau aku menyia-siakan berarti aku band! Aku pun bangkit. Aku berdiri di atas lutut dan mendekatinya dari belakang. Aku pura-pura mengawasi dia dalam mengerjakan soal. Padahal mataku mengawasi tubuhnya dari belakang. Kulit punggung dan lengannya benar-benar mulus, tanpa goresan sedikitpun.

Karena padat tubuhnya, kulit yang kuning langsat itu tampak licin mengkilap walaupun ditumbuhi oleh bulu-bulu rambut yang halus. Kemudian aku menempelkan kontholku yang menegang ke punggungnya. Eri sedikit terkejut ketEri merasa ada yang menempel punggungnya. Ih Mas Ipank jangan begitu dong, kata Eri manja. Sudah udah-udah Aku sekedar mengawasi pekerjaan Neng Eri, jawabku. lka cemberut.

Namun dengan cemberut begitu, bibir yang sensual itu malah tampak menggemaskan. Sungguh sedap sekali bila dikulum-kulum dan dilumat-lumat. Eri berpura-pura meneruskan pekerjaannya. Aku semakin berani. Kontholku kutekankan ke punggungnya yang kenyal. Eri menggelinjang. Tidak tahan lagi. tubuh Eri kurengkuh dan kurebahkan di atas karpet. Bibirnya kulumat-lumat, sementara kulit punggungnya kuremas-remas.

Bibir Eri mengadakan perlawanan, mengimbangi kuluman-kuluman bibirku yang diselingi dengan permainan lidahnya. Terlihat bahkan dalam masalah ciuman Eri yang masih kelas tiga SMA sudah sangat mahir. Bahkan mengalahkan kemahiranku. Beberapa saat kemudian ciumanku berpindah ke lehernya yang jenjang.

Bau harum terpancar dan kulitnya. Sambil kusedot-sedot kulit lehernya dengan hidungku, tanganku berpindah ke buah dadanya. Buah dada yang tidak dilindungi bra itu terasa kenyal dalam remasan tanganku. Kadang-kadang dan batik kain licin baju atasannya, putingnya kutekan-tekan dan kupelintir-pelintir dengan jari-jari tanganku.

Puting itu terasa mengeras. Kak Ipank Mas Ipank buka baju saja Mas Ipank, rintih Eri. Tanpa menunggu persetujuanku, jari-jari tangannya membuka Erit pinggang dan ritsleteng celanaku. Aku mengimbangi, tall baju atasannya kulepas dan baju tersebut kubebaskan dan tubuhnya. Aku terpana melihat kemulusan tubuh atasnya tanpa penutup sehelai kain pun. Buah dadanya yang padat membusung dengan indahnya.

Ditimpa sinar lampu neon ruang tamu, payudaranya kelihatan amat mulus dan licin. Putingnya berdiri tegak di ujung gumpalan payudara. Putingnya berwarna pink kecoklat-coklatan, sementara puncak bukit payudara di sekitarnya berwarna coklat tua dan sedikit menggembung dibanding dengan permukaan kulit payudaranya.

Celana panjang yang sudah dibuka oleh Eri kulepas dengan segera. Menyusul. kemeja dan kaos singlet kulepas dan tubuhku. Kini aku cuma tertutup oleh celana dalamku, sementara Eri tertutup oleh rok span ketat yang mempertontonkan bentuk pinggangnya yang ramping dan bentuk pinggulnya yang melebar dengan bagusnya.

Eri pun melepaskan rok spannya itu, sehingga pinggul yang indah itu kini hanya terbungkus celana dalam minim yang tipis dan berwarna pink. Di daerah bawah perutnya, celana dalam itu tidak mampu menyembunyErin warna hitam dari jembut lebat Eri yang terbungkus di dalamnya. Juga, beberapa helai jembut Eri tampak keluar dan lobang celana dalamnya. lka memandangi dadaku yang bidang.

Kemudian dia memandang ke arah kontholku yang besar dan panjang, yang menonjol dari balik celana dalamku. Pandangan matanya memancarkan nafsu yang sudah menggelegak. Perlahan aku mendekatkan badanku ke badannya yang sudah terbaring pasrah. Kupeluk tubuhnya sambil mengulum kembali bibirnya yang hangat.

Eri pun mengimbanginya. Dia memeluk leherku sambil membalas kuluman di bibirnya. Payudaranya pun menekan dadaku. Payudara itu terasa kenyal dan lembut. Putingnya yang mengeras terasa benar menekan dadaku. Aku dan Eri saling mengulum bibir, saling menekankan dada, dan saling meremas kulit punggung dengan penuh nafsu.

Ciumanku berpindah ke leher Eri. Leher mulus yang memancarkan keharuman parfum yang segar itu kugumuli dengan bibir dan hidungku. Eri mendongakkan dagunya agar aku dapat menciumi segenap pori-pori kulit lehernya. Ahhh Mas Ipank Eri sudah menginginkannya dari kemarin Gelutilah tubuh Eri puasin Eri ya Mas Ipank, bisik Eri terpatah-patah. Aku menyambutnya dengan penuh antusias. Kini wajahku bergerak ke arah payudaranya. Payudaranya begitu menggembung dan padat. namun berkulit lembut. Bau keharuman yang segar terpancar dan pori-porinya.

Agaknya Eri tadi sengaja memakai parfum di sekujur payudaranya sebelum datang ke sini. Aku menghirup kuat-kuat lembah di antara kedua bukit payudaranya itu. Kemudian wajahku kugesek-gesekkan di kedua bukit payudara itu secara bergantian, sambil hidungku terus menghirup keharuman yang terpancar dan kulit payudara.

Puncak bukit payudara kanannya pun kulahap dalam mulutku. Kusedot kuat-kuat payudara itu sehingga daging yang masuk ke dalam mulutku menjadi sebesar-besarnya. Eri menggelinjang. Kak Ipank ngilu ngilu, rintih Eri. Gelinjang dan rintihan Eri itu semakin membangkitkan hasratku. Kuremas bukit payudara sebelah kirinya dengan gemasnya, sementara puting payudara kanannya kumainkan dengan ujung lidahku.

Puting itu kadang kugencet dengan tekanan ujung lidah dengan gigi. Kemudian secara mendadak kusedot kembali payudara kanan itu kuat-kuat. sementara jari tanganku menekan dan memelintir puting payudara kirinya. Eri semakin menggelinjang-gelinjang seperti Erin belut yang memburu makanan sambil mulutnya mendesah-desah. Aduh mas Booob ssshh ssshhh ngilu mas Booob ssshhh geli geli, cuma kata-kata itu yang berulang-ulang keluar dan mulutnya yang merangsang.

Aku tidak puas dengan hanya menggeluti payudara kanannya. Kini mulutku berganti menggeluti payudara kiri. sementara tanganku meremas-remas payudara kanannya kuat-kuat. Kalau payudara kirinya kusedot kuat-kuat. tanganku memijit-mijit dan memelintir-pelintir puting payudara kanannya.

Sedang bila gigi dan ujung lidahku menekan-nekan puting payudara kiri, tanganku meremas sebesar-besarnya payudara kanannya dengan sekuat-kuatnya. Kak Booob kamu nakal. ssshhh ssshhh ngilu mas Booob geli Eri tidak henti-hentinya menggelinjang dan mendesah manja. Setelah puas dengan payudara, aku meneruskan permainan lidah ke arah perut Eri yang rata dan berkulit amat mulus itu.

Mulutku berhenti di daerah pusarnya. Aku pun berkonsentrasi mengecupi bagian pusarnya. Sementara kedua telapak tanganku menyusup ke belakang dan meremas-remas pantatnya yang melebar dan menggembung padat. Kedua tanganku menyelip ke dalam celana yang melindungi pantatnya itu. Perlahan lahan celana dalamnya kupelorotkan ke bawah. Eri sedikit mengangkat pantatnya untuk memberi kemudahan celana dalamnya lepas.

Dan dengan sekali sentakan kakinya, celana dalamnya sudah terlempar ke bawah. Saat berikutnya, terhamparlah pemandangan yang luar biasa merangsangnya. Jembut Eri sungguh lebat dan subur sekali. Jembut itu mengitari bibir vagina yang berwarna coklat tua. Sambil kembali menciumi kulit perut di sekitar pusarnya, tanganku mengelus-elus pahanya yang berkulit licin dan mulus.

Elusanku pun ke arah dalam dan merangkak naik. Sampailah jari-jari tanganku di tepi kiri-kanan bibir luar vaginanya. Tanganku pun mengelus-elus vaginanya dengan dua jariku bergerak dan bawah ke atas. Dengan mata terpejam, Eri berinisiatif meremas-remas payudaranya sendiri.

Tampak jelas kalau Eri sangat menikmati permainan ini. Perlahan kusibak bibir vagina Eri dengan ibu jari dan telunjukku mengarah ke atas sampai kelentitnya menongol keluar. Wajahku bergerak ke vaginanya, sementara tanganku kembali memegangi payudaranya. Kujilati kelentit Eri perlahan-lahan dengan jilatan-jilatan pendek dan terputus-putus sambil satu tanganku mempermainkan puting payudaranya.

Au Mas Ipank shhhhh betul betul di situ mas Ipank di situ enak mas shhhh, Eri mendesah-desah sambil matanya merem-melek. Bulu alisnya yang tebal dan indah bergerak ke atas-bawah mengimbangi gerakan merem-meleknya mata. Keningnya pun berkerut pertanda dia sedang mengalami kenikmatan yang semakin meninggi.

Aku meneruskan permainan lidah dengan melakukan jilatan-jilatan panjang dan lubang anus sampai ke kelentitnya. Karena gerakan ujung hidungku pun secara berkala menyentuh vagina Eri. Terasa benar bahkan dinding vaginanya mulai basah. Bahkan sebagian cairan vaginanya mulai mengalir hingga mencapai lubang anusnya. Sesekali pinggulnya bergetar.

Di saat bergetar itu pinggulnya yang padat dan amat mulus kuremas kuat-kuat sambil ujung hidungku kutusukkan ke lobang vaginanya. Kak Booob enak sekali mas Ipank, Eri mengerang dengan kerasnya. Aku segera memfokuskan jilatan-jilatan lidah serta tusukan-tusukan ujung hidung di vaginanya. Semakin lama vagina itu semakin basah saja.

Dua jari tanganku lalu kumasukkan ke lobang vaginanya. Setelah masuk hampir semuanya, jari kubengkokkan ke arah atas dengan tekanan yang cukup terasa agar kena G-spot-nya. Dan berhasil! Auwww mas Ipank! jerit Eri sambil menyentakkan pantat ke atas. sampai-sampai jari tangan yang sudah terbenam di dalam vagina terlepas. Perut bawahnya yang ditumbuhi bulu-bulu jembut hitam yang lebat itu pun menghantam ke wajahku.

Bau harum dan bau khas cairan vaginanya merasuk ke sel-sel syaraf penciumanku. Aku segera memasukkan kembali dua jariku ke dalam vagina Eri dan melakukan gerakan yang sama. Kali ini aku mengimbangi gerakan jariku dengan permainan lidah di kelentit Eri. Kelentit itu tampak semakin menonjol sehingga gampang bagiku untuk menjilat dan mengisapnya.

Ketika kelentit itu aku gelitiki dengan lidah serta kuisap-isap perlahan, Eri semakin keras merintih-rintih bagaErin orang yang sedang mengalami sakit demam. Sementara pinggulnya yang amat aduhai itu menggial ke kiri-kanan dengan sangat merangsangnya. Kak Ipank mas Ipank mas Ipank, hanya kata-kata itu yang dapat diucapkan Eri karena menahan kenikmatan yang semakin menjadi-jadi. Permainan jari-jariku dan lidahku di vaginanya semakin bertambah ganas. Eri sambil mengerang*-erang dan menggeliat-geliat meremas apa saja yang dapat dia raih.

Meremas rambut kepalaku, meremas bahuku, dan meremas payudaranya sendiri. Kak Ipank Eri sudah tidak tahan lagi Masukin konthol saja mas Ipank Ohhh sekarang juga mas Ipank! Sshhh. . . , erangnya sambil menahan nafsu yang sudah menguasai segenap tubuhnya. Namun aku tidak perduli. Kusengaja untuk mempermainkan Eri terlebih dahulu. Aku mau membuatnya orgasme, sementara aku masih segar bugar. Karena itu lidah dan wajahku kujauhkan dan vaginanya. Kemudian kocokan dua jari tanganku di dalam vaginanya semakin kupercepat.

Gerakan jari tanganku yang di dalam vaginanya ke atas-bawah, sampai terasa ujung jariku menghentak-hentak dinding atasnya secara perlahan-lahan. Sementara ibu jariku mengusap-usap dan menghentak-hentak kelentitnya. Gerakan jari tanganku di vaginanya yang basah itu sampai menimbulkan suara crrk-crrrk-crrrk-crrk crrrk Sementara dan mulut Eri keluar pekErin-pekErin kecil yang terputus-putus: Ah-ah-ah-ah-ah Sementara aku semakin memperdahsyat kocokan jari-jariku di vaginanya, sambil memandangi wajahnya.

Mata Eri merem-melek, sementara keningnya berkerut-kerut. Crrrk! Crrrk! Crrek Crek! Crek! Crok! Crok! Suara yang keluar dan kocokan jariku di vaginanya semakin terdengar keras. Aku mempertahankan kocokan tersebut. Dua menit sudah si Eri mampu bertahan sambil mengeluarkan jIkatan-jIkatan yang membangkitkan nafsu.

Payudaranya tampak semakin kencang dan licin, sedang putingnya tampak berdiri dengan tegangnya. Sampai akhirnya tubuh Eri mengejang hebat. Pantatnya terangkat tinggi-tinggi. Matanya membeliak-*beliak. Dan bibirnya yang sensual itu keluar jIkatan hebat, Kak Booo00oob ! Dua jariku yang tertanam di dalam vagina Eri terasa dijepit oleh dindingnya dengan kuatnya.

Seiring dengan keluar masuknya jariku dalam vaginanya, dan sela-sela celah antara tanganku dengan bibir vaginanya terpancarlah semprotan cairan vaginanya dengan kuatnya. Prut! Prut! Pruttt! Semprotan cairan tersebut sampai mencapai pergelangan tanganku. Beberapa detik kemudian Eri terbaring lemas di atas karpet. Matanya memejam rapat. Tampaknya dia baru saja mengalami orgasme yang begitu hebat.

Kocokan jari tanganku di vaginanya pun kuhentErin. Kubiarkan jari tertanam dalam vaginanya sampai jepitan dinding vaginanya terasa lemah. Setelah lemah. jari tangan kucabut dan vaginanya. Cairan vagina yang terkumpul di telapak tanganku pun kubersihkan dengan kertas tissue. Ketegangan kontholku belum juga mau berkurang.

Apalagi tubuh telanjang Eri yang terbaring diam di hadapanku itu benar-benar aduhai. seolah menantang diriku untuk membuktErin kejantananku pada tubuh mulusnya. Aku pun mulai menindih kembali tubuh Eri, sehingga kontholku yang masih di dalam celana dalam tergencet oleh perut bawahku dan perut bawahnya dengan enaknya. Sementara bibirku mengulum-kulum kembali bibir hangat Eri, sambil tanganku meremas-remas payudara dan mempermainkan putingnya. Eri kembali membuka mata dan mengimbangi serangan bibirku.

Tubuhnya kembali menggelinjang-gelinjang karena menahan rasa geli dan ngilu di payudaranya. Setelah puas melumat-lumat bibir. wajahku pun menyusuri leher Eri yang mulus dan harum hingga akhirnya mencapai belahan dadanya. Wajahku kemudian menggeluti belahan payudaranya yang berkulit lembut dan halus, sementara kedua tanganku meremas-remas kedua belah payudaranya. Segala kelembutan dan keharuman belahan dada itu kukecupi dengan bibirku.

Segala keharuman yang terpancar dan belahan payudara itu kuhirup kuat-kuat dengan hidungku, seolah tidak rela apabila ada keharuman yang terlewatkan sedikitpun. Kugesek-gesekkan memutar wajahku di belahan payudara itu. Kemudian bibirku bergerak ke atas bukit payudara sebelah kiri. Kuciumi bukit payudara yang membusung dengan gagahnya itu. Dan kumasukkan puting payudara di atasnya ke dalam mulutku. Kini aku menyedot-sedot puting payudara kiri Eri.

Kumainkan puting di dalam mulutku itu dengan lidahku. Sedotan kadang kuperbesar ke puncak bukit payudara di sekitar puting yang berwarna coklat. Ah ah mas Ipank geli geli , mulut indah Eri mendesis-desis sambil menggeliatkan tubuh ke kiri-kanan. bagaErin desisan ular kelaparan yang sedang mencari mangsa. Aku memperkuat sedotanku. Sementara tanganku meremas-remas payudara kanan Eri yang montok dan kenyal itu.

Kadang remasan kuperkuat dan kuperkecil menuju puncak bukitnya, dan kuakhiri dengan tekanan-tekanan kecil jari telunjuk dan ibu jariku pada putingnya. Kak Ipank hhh geli geli enak enak ngilu ngilu Aku semakin gemas. Payudara aduhai Eri itu kumainkan secara bergantian, antara sebelah kiri dan sebelah kanan. Bukit payudara kadang kusedot besarnya-besarnya dengan tenaga isap sekuat-kuatnya, kadang yang kusedot hanya putingnya dan kucepit dengan gigi atas dan lidah.

Belahan lain kadang kuremas dengan daerah tangkap sebesar-besarnya dengan remasan sekuat-kuatnya, kadang hanya kupijit-pijit dan kupelintir-pelintir kecil puting yang mencuat gagah di puncaknya. Ah mas Ipank terus mas Ipank terus hzzz ngilu ngilu Eri mendesis-desis keenakan. Hasratnya tampak sudah kembali tinggi. Matanya kadang terbeliak-beliak. Geliatan tubuhnya ke kanan-kini semakin sening fnekuensinya. Sampai akhirnya Eri tidak kuat mehayani senangan-senangan keduaku. Dia dengan gerakan eepat memehorotkan celana dalamku hingga tunun ke paha.

Aku memaklumi maksudnya, segera kulepas eelana dalamku. Jan-jari tangan kanan Eri yang mulus dan lembut kemudian menangkap kontholku yang sudah berdiri dengan gagahnya. Sejenak dia memperlihatkan rasa terkejut. Edan mas Ipank, edan Kontholmu besar sekali Konthol pacan-pacanku dahulu dan juga konthol kak Dai tidak sampai sebesar in Edan edan, ucapnya terkagum-kagum. Sambil membiankan mulut, wajah, dan tanganku terus memainkan dan menggeluti kedua belah payudaranya, jan-jari lentik tangan kanannya meremas remas perlahan kontholku secara berirama, seolah berusaha mencari kehangatan dan kenikmatan di hiatnya menana kejantananku.

Remasannya itu mempenhebat vohtase dam rasa nikmat pada batang kontholku. Kak Ipank. kita main di atas kasur saja, ajak Eri dengan sinar mata yang sudah dikuasai nafsu binahi. Aku pun membopong tubuh telanjang Eri ke ruang dalam, dan membaringkannya di atas tempat tidun pacarku. Ranjang pacarku ini amat pendek, dasan kasurnya hanya terangkat sekitar 6 centimeter dari lantai. KetEri kubopong. Eri tidak mau melepaskan tangannya dari leherku.

Bahkan, begitu tubuhnya menyentuh kasur, tangannya menanik wajahku mendekat ke wajahnya. Tak ayal lagi, bibirnya yang pink menekan itu melumat bibirku dengan ganasnya. Aku pun tidak mau mengalah. Kulumat bibirnya dengan penuh nafsu yang menggelora, sementara tanganku mendekap tubuhnya dengan kuatnya. Kuhit punggungnya yang halus mulus kuremas-remas dengan gemasnya. Kemudian aku menindih tubuh Eri.

Kontholku terjepit di antara pangkal pahanya yang mulus dan perut bawahku sendiri. Kehangatan kulit pahanya mengalir ke batang kontholku yang tegang dan keras. Bibirku kemudian melepaskan bibir sensual Eri. Kecupan bibirku pun turun. Kukecup dagu Eri yang bagus. Kukecup leher jenjang Eri yang memancarkan bau wangi dan segarnya parfum yang dia pakai. Kuciumi dan kugeluti leher indah itu dengan wajahku, sementara pantatku mulai bergerak aktif sehingga kontholku menekan dan menggesek-gesek paha Eri.

Gesekan di kulit paha yang licin itu membuat batang kontholku bagai diplirit-plirit. Kepala kontholku merasa geli-geli enak oleh gesekan-gesekan paha Eri. Puas menggeluti leher indah, wajahku pun turun ke buah dada montok Eri. Dengan gemas dan ganasnya aku membenamkan wajahku ke belahan dadanya, sementara kedua tanganku meraup kedua belah payudaranya dan menekannya ke arah wajahku.

Keharuman payudaranya kuhirup sepuas-puasku. Belum puas dengan menyungsep ke belahan dadanya, wajahku kini menggesek-gesek memutar sehingga kedua gunung payudaranya tertekan-tekan oleh wajahku secara bergantian. Sungguh sedap sekali rasanya ketEri hidungku menyentuh dan menghirup dalam-dalam daging payudara yang besar dan kenyal itu. Kemudian bibirku meraup puncak bukit payudara kiri Eri.

Daerah payudara yang kecoklat-coklatan beserta putingnya yang pink kecoklat-coklatan itu pun masuk dalam mulutku. Kulahap ujung payudara dan putingnya itu dengan bernafsunya, tak ubahnya seperti bayi yang menetek susu setelah kelaparan selama seharian. Di dalam mulutku, puting itu kukulum-kulum dan kumainkan dengan lidahku. Kak Ipank geli geli , kata Eri kegelian. Aku tidak perduli. Aku terus mengulum-kulum puncak bukit payudara Eri. Putingnya terasa di lidahku menjadi keras.

Kemudian aku kembali melahap puncak bukit payudara itu sebesar-besarnya. Apa yang masuk dalam mulutku kusedot sekuat-kuatnya. Sementara payudara sebelah kanannya kuremas sekuat-kuatnya dengan tanganku. Hal tersebut kulakukan secara bergantian antara payudara kiri dan payudara kanan Eri. Sementara kontholku semakin menekan dan menggesek-gesek dengan beriramanya di kulit pahanya.

Eri semakin menggelinjang-gelinjang dengan hebatnya. Kak Ipank mas Ipank ngilu ngilu hihhh nakal sekali tangan dan mulutmu Auw! Sssh ngilu ngilu, rintih Eri. Rintihannya itu justru semakin mengipasi api nafsuku. Api nafsuku semakin berkobar-kobar. Semakin ganas aku mengisap-isap dan meremas-remas payudara montoknya. Sementara kontholku berdenyut-denyut keenakan merasakan hangat dan licinnya paha Eri. Akhirnya aku tidak sabar lagi.

Kulepaskan payudara montok Eri dari gelutan mulut dan tanganku. Bibirku kini berpindah menciumi dagu dan lehernya, sementara tanganku membimbing kontholku untuk mencari liang vaginanya. Kuputar-putarkan dahulu kepala kontholku di kelebatan jembut di sekitar bibir vagina Eri. Bulu-bulu jembut itu bagaErin menggelitiki kepala kontholku. Kepala kontholku pun kegelian. Geli tetapi enak.

Kak Ipank masukkan seluruhnya mas Ipank masukkan seluruhnya Mas Ipank belum pernah merasakan vagina Mbak Dina kan? Mbak Dina orang kuno tidak mau merasakan konthol sebelum nErih. Padahal itu surga dunia bagai terhempas langit ke langit ketujuh. mas Ipank Jan-jari tangan Eri yang lentik meraih batang kontholku yang sudah amat tegang. Pahanya yang mulus itu dia buka agak lebar. Edan edan kontholmu besar dan keras sekali, mas Ipank, katanya sambil mengarahkan kepala kontholku ke lobang vaginanya.

Sesaat kemudian kepala kontholku menyentuh bibir vaginanya yang sudah basah. Kemudian dengan perlahan-lahan dan sambil kugetarkan, konthol kutekankan masuk ke liang vagina. Kini seluruh kepala kontholku pun terbenam di dalam vagina. Daging hangat berlendir kini terasa mengulum kepala kontholku dengan enaknya. Aku menghentErin gerak masuk kontholku. Kak Ipank teruskan masuk, Ipank Sssh enak jangan berhenti sampai situ saja, Eri protes atas tindakanku.

Namun aku tidak perduli. Kubiarkan kontholku hanya masuk ke lobang vaginanya hanya sebatas kepalanya saja, namun kontholku kugetarkan dengan amplituda kecil. Sementara bibir dan hidungku dengan ganasnya menggeluti lehernya yang jenjang, lengan tangannya yang harum dan mulus, dari ketiaknya yang bersih dari bulu ketiak. Eri menggelinjang-gelinjang dengan tidak karuan.

Sssh sssh enak enak geli geli, mas Ipank. Geli Terus masuk, mas Ipank Bibirku mengulum kulit lengan tangannya dengan kuat-kuat. Sementara gerakan kukonsentrasErin pada pinggulku. Dan satu dua tiga! Kontholku kutusukkan sedalam-dalamnya ke dalam vagina Eri dengan sangat cepat dan kuatnya.

Plak! Pangkal pahaku beradu dengan pangkal pahanya yang mulus yang sedang dalam posisi agak membuka dengan kerasnya. Sementara kulit batang kontholku bagaErin diplirit oleh bibir dan daging lobang vaginanya yang sudah basah dengan kuatnya sampai menimbulkan bunyi: srrrt! Auwww! pekik Eri. Aku diam sesaat, membiarkan kontholku tertanam seluruhnya di dalam vagina Eri tanpa bergerak sedikit pun.

Sakit mas Ipank Nakal sekali kamu nakal sekali kamu. kata Eri sambil tangannya meremas punggungku dengan kerasnya. Aku pun mulai menggerakkan kontholku keluar-masuk vagina Eri. Aku tidak tahu, apakah kontholku yang berukuran panjang dan besar ataukah lubang vagina Eri yang berukuran kecil. Yang saya tahu, seluruh bagian kontholku yang masuk vaginanya serasa dipijit-pijit dinding lobang vaginanya dengan agak kuatnya.

Pijitan dinding vagina itu memberi rasa hangat dan nikmat pada batang kontholku. Bagaimana Eri, sakit? tanyaku Sssh enak sekali enak sekali Barangmu besar dan panjang sekali sampai-sampai menyumpal penuh seluruh penjuru lobang vaginaku, jawab Eri. Aku terus memompa vagina Eri dengan kontholku perlahan-lahan.

Payudara kenyalnya yang menempel di dadaku ikut terpilin-pilin oleh dadaku akibat gerakan memompa tadi. Kedua putingnya yang sudah mengeras seakan-akan mengkilik-kilik dadaku yang bidang. Kehangatan payudaranya yang montok itu mulai terasa mengalir ke dadaku. Kontholku serasa diremas-remas dengan berirama oleh otot-otot vaginanya sejalan dengan genjotanku tersebut. Terasa hangat dan enak sekali. Sementara setiap kali menusuk masuk kepala kontholku menyentuh suatu daging hangat di dalam vagina Eri.

Sentuhan tersebut serasa menggelitiki kepala konthol sehingga aku merasa sedikit kegelian. Geli-geli nikmat. Kemudian aku mengambil kedua kakinya yang kuning langsat mulus dan mengangkatnya. Sambil menjaga agar kontholku tidak tercabut dari lobang vaginanya, aku mengambil posisi agak jongkok. Betis kanan Eri kutumpangkan di atas bahuku, sementara betis kirinya kudekatkan ke wajahku. Sambil terus mengocok vaginanya perlahan dengan kontholku, betis kirinya yang amat indah itu kuciumi dan kukecupi dengan gemasnya.

Setelah puas dengan betis kiri, ganti betis kanannya yang kuciumi dan kugeluti, sementara betis kirinya kutumpangkan ke atas bahuku. Begitu hal tersebut kulakukan beberapa kali secara bergantian, sambil mempertahankan rasa nikmat di kontholku dengan mempertahankan gerakan maju-mundur perlahannya di vagina Eri. Setelah puas dengan cara tersebut, aku meletakkan kedua betisnya di bahuku, sementara kedua telapak tanganku meraup kedua belah payudaranya. Masih dengan kocokan konthol perlahan di vaginanya, tanganku meremas-remas payudara montok Eri. Kedua gumpalan daging kenyal itu kuremas kuat-kuat secara berirama.

Kadang kedua putingnya kugencet dan kupelintir-pelintir secara perlahan. Puting itu semakin mengeras, dan bukit payudara itu semakin terasa kenyal di telapak tanganku. Eri pun merintih-rintih keenakan. Matanya merem-melek, dan alisnya mengimbanginya dengan sedikit gerakan tarErin ke atas dan ke bawah.

Ah mas Ipank, geli geli Tobat tobat Ngilu mas Ipank, ngilu Sssh sssh terus mas Ipank, terus. Edan edan kontholmu membuat vaginaku merasa enak sekali Nanti jangan disemprotkan di luar vagina, mas Ipank. Nyemprot di dalam saja aku sedang tidak subur Aku mulai mempercepat gerakan masuk-keluar kontholku di vagina Eri. Ah-ah-ah benar, mas Ipank. benar yang cepat Terus mas Ipank, terus Aku bagaErin diberi spirit oleh rintihan-rintihan Eri. tenagaku menjadi berlipat ganda. Kutingkatkan kecepatan keluar-masuk kontholku di vagina Eri.

Terus dan terus. Seluruh bagian kontholku serasa diremas*-remas dengan cepatnya oleh daging-daging hangat di dalam vagina Eri. Mata Eri menjadi merem-melek dengan cepat dan indahnya. Begitu juga diriku, mataku pun merem-melek dan mendesis-desis karena merasa keenakan yang luar biasa. Sssh sssh Eri enak sekali enak sekali vaginamu enak sekali vaginamu Ya mas Ipank, aku juga merasa enak sekali terusss terus mas Ipank, terusss Aku meningkatkan lagi kecepatan keluar-masuk kontholku pada vaginanya.

Kontholku terasa bagai diremas-remas dengan tidak karu-karuan. Kak Ipank mas Ipank edan mas Ipank, edan sssh sssh Terus terus Saya hampir keluar nih mas Ipank sedikit lagi kita keluar sama-sama ya Booob, Eri jadi mengoceh tanpa kendali. Aku mengayuh terus. Aku belum merasa mau keluar. Namun aku harus membuatnya keluar duluan. Biar perempuan Sunda yang molek satu ini tahu bahwa lelaki Jawa itu perkasa.

Biar dia mengakui kejantanan orang Jawa yang bernama mas Ipankby. Sementara kontholku merasakan daging-daging hangat di dalam vagina Eri bagaErin berdenyut dengan hebatnya. Kak Ipank mas Ipankby mas Ipankby, rintih Eri. Telapak tangannya memegang kedua lengan tanganku seolah mencari pegangan di batang pohon karena takut jatuh ke bawah. lbarat pembalap, aku mengayuh sepeda balapku dengan semakin cepatnya. Bedanya, dibandingkan dengan pembalap aku lebih beruntung.

Di dalam mengayuh sepeda aku merasakan keenakan yang luar biasa di sekujur kontholku. Sepedaku pun mempunyai daya tarik tersendiri karena mengeluarkan rintihan-rintihan keenakan yang tiada terkira. Kak Ipank ah-ah-ah-ah-ah Enak mas Ipank, enak Ah-ah-ah-ah-ah Mau keluar mas Ipank mau keluar ah-ah-ah-ah-ah sekarang ke-ke-ke Tiba-tiba kurasakan kontholku dijepit oleh dinding vagina Eri dengan sangat kuatnya.

Di dalam vagina, kontholku merasa disemprot oleh cairan yang keluar dari vagina Eri dengan cukup derasnya. Dan telapak tangan Eri meremas lengan tanganku dengan sangat kuatnya. Mulut sensual Eri pun berteriak tanpa kendali: keluarrr! Mata Eri membeliak-beliak. Sekejap tubuh Eri kurasakan mengejang. Aku pun menghentErin genjotanku. Kontholku yang tegang luar biasa kubiarkan diam tertanam dalam vagina Eri. Kontholku merasa hangat luar biasa karena terkena semprotan cairan vagina Eri.

Kulihat mata Eri kemudian memejam beberapa saat dalam menikmati puncak orgasmenya. Setelah sekitar satu menit berlangsung, remasan tangannya pada lenganku perlahan-lahan mengendur. Kelopak matanya pun membuka, memandangi wajahku. Sementara jepitan dinding vaginanya pada kontholku berangsur-angsur melemah. walaupun kontholku masih tegang dan keras. Kedua kaki Eri lalu kuletakkan kembali di atas kasur dengan posisi agak membuka.

Aku kembali menindih tubuh telanjang Eri dengan mempertahankan agar kontholku yang tertanam di dalam vaginanya tidak tercabut. Kak Ipank kamu luar biasa kamu membawaku ke langit ke tujuh, kata Eri dengan mimik wajah penuh kepuasan. Kak Dai dan pacar-pacarku yang dulu tidak pernah membuat aku ke puncak orgasme seperti ml. Sejak Mbak Dina tinggal di sini, Eri suka membenarkan mas Ipank saat berhubungan dengan Kak Dai.

Aku senang mendengar pengakuan Eri itu. berarti selama aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku selalu membayangkan kemolekan tubuh Eri dalam masturbasiku, sementara dia juga membayangkan kugeluti dalam onaninya. Bagiku. Dina bagus dijadErin istri dan ibu anak-anakku kelak, namun tidak dapat dipungkiri bahwa tubuh aduhai Eri enak digeluti dan digenjot dengan penuh nafsu.

Kak Ipank kamu seperti yang kubayangkan. Kamu jantan kamu perkasa dan kamu berhasil membawaku ke puncak orgasme. Luar biasa nikmatnya Aku bangga mendengar ucapan Eri. Dadaku serasa mengembang. Dan bagai anak kecil yang suka pujian, aku ingin menunjukkan bahwa aku lebih perkasa dari dugaannya. Perempuan Sunda ini harus kewalahan menghadapi genjotanku. Perempuan Sunda ini harus mengakui kejantanan dan keperkasaanku.

Kebetulan aku saat ini baru setengah perjalanan pendakianku di saat Eri sudah mencapai orgasmenya. Kontolku masih tegang di dalam vaginanya. Kontolku masih besar dan keras, yang haruss menyemprotkan pelurunya agar kepalaku tidak pusing. Aku kembali mendekap tubuh mulus Eri, yang di bawah sinar lampu kuning kulit tubuhnya tampak sangat mulus dan licin.

Kontholku mulai bergerak keluar-masuk lagi di vagina Eri, namun masih dengan gerakan perlahan. Dinding vagina Eri secara berargsur-angsur terasa mulai meremas-remas kontholku. Terasa hangat dan enak. Namun sekarang gerakan kontholku lebih lancar dibandingkan dengan tadi. Pasti karena adanya cairan orgasme yang disemprotkan oleh vagina Eri beberapa saat yang lalu.

Ahhh mas Ipank kau langsung memulainya lagi Sekarang giliranmu semprotkan air manimu ke dinding-dinding vaginaku Sssh, Eri mulai mendesis-desis lagi. Bibirku mulai memagut bibir merekah Eri yang amat sensual itu dan melumat-lumatnya dengan gemasnya. Sementara tangan kiriku ikut menyangga berat badanku, tangan kananku meremas-remas payudara montok Eri serta memijit-mijit putingnya, sesuai dengan mama gerak maju-mundur kontholku di vaginanya.

Sssh sssh sssh enak mas Ipank, enak Terus teruss terusss, desis bibir Eri di saat berhasil melepaskannya dari serbuan bibirku. Desisan itu bagaErin mengipasi gelora api birahiku. Sambil kembali melumat bibir Eri dengan kuatnya, aku mempercepat genjotan kontholku di vaginanya.

Pengaruh adanya cairan di dalam vagina Eri, keluar-masuknya konthol pun diiringi oleh suara, srrt-srret srrrt-srrret srrt-srret Mulut Eri di saat terbebas dari lumatan bibirku tidak henti-hentinya mengeluarkan rintih kenikmatan, Kak Ipank ah mas Ipank ah mas Ipank hhb mas Ipank ahh Kontholku semakin tegang. Kulepaskan tangan kananku dari payudaranya. Kedua tanganku kini dari ketiak Eri menyusup ke bawah dan memeluk punggung mulusnya. Tangan Eri pun memeluk punggungku dan mengusap-usapnya.

Aku pun memulai serangan dahsyatku. Keluar-masuknya kontholku ke dalam vagina Eri sekarang berlangsung dengan cepat dan berirama. Setiap kali masuk, konthol kuhunjamkan keras-keras agar menusuk vagina Eri sedalam-dalamnya. Dalam perjalanannya, batang kontholku bagai diremas dan dihentakkan kuat-kuat oleh dinding vagina Eri.

Sampai di langkah terdalam, mata Eri membeliak sambil bibirnya mengeluarkan seruan tertahan, Ak! Sementara daging pangkal pahaku bagaErin menampar daging pangkal pahanya sampai berbunyi: plak! Di saat bergerak keluar vagina, konthol kujaga agar kepalanya yang mengenakan helm tetap tertanam di lobang vagina. Remasan dinding vagina pada batang kontholku pada gerak keluar ini sedikit lebih lemah dibanding dengan gerak masuknya.

Bibir vagina yang mengulum batang kontholku pun sedikit ikut tertarik keluar, seolah tidak rela bila sampai ditinggal keluar oleh batang kontholku. Pada gerak keluar ini Bibir Eri mendesah, Hhh Aku terus menggenjot vagina Eri dengan gerakan cepat dan menghentak-hentak. Remasan yang luar biasa kuat, hangat, dan enak sekali bekerja di kontholku.

Tangan Eri meremas punggungku kuat-kuat di saat kontholku kuhunjam masuk sejauh-jauhnya ke lobang vaginanya. beradunya daging pangkal paha menimbulkan suara: Plak! Plak! Plak! Plak! Pergeseran antara kontholku dan vagina Eri menimbulkan bunyi srottt-srrrt srottt-srrrt srottt-srrrtt Kedua nada tersebut diperdahsyat oleh pekErin-pekErin kecil yang merdu yang keluar dari bibir Eri: Ak! Uhh Ak! Hhh Ak! Hhh Kontholku terasa empot-empotan luar biasa.

Rasa hangat, geli, dan enak yang tiada tara membuatku tidak kuasa menahan pekErin-pekErin kecil: lka Eri edan edan Enak sekali Eri Memekmu enak sekali Memekmu hangat sekali edan jepitan vaginamu enak sekali Kak Ipank mas Ipank terus mas Ipank rintih Eri, enak mas Ipank enaaak Ak! Ak! Ak! Hhh Ak! Hhh Ak! Hhh Tiba-tiba rasa gatal menyelimuti segenap penjuru kontholku.

Gatal yang enak sekali. Aku pun mengocokkan kontholku ke vaginanya dengan semakin cepat dan kerasnya. Setiap masuk ke dalam, kontholku berusaha menusuk lebih dalam lagi dan lebih cepat lagi dibandingkan langkah masuk sebelumnya. Rasa gatal dan rasa enak yang luar biasa di konthol pun semakin menghebat.

Karena menahan rasa nikmat dan gatal yang luar biasa aku tidak mampu menyelesaErin ucapanku yang memang sudah terbata-bata itu. Kak Ipank mas Ipank mas Ipank! Ak-ak-ak Aku mau keluar lagi Ak-ak-ak aku ke-ke-ke Tiba-tiba kontholku mengejang dan berdenyut dengan amat dahsyatnya.

Aku tidak mampu lagi menahan rasa gatal yang sudah mencapai puncaknya. Namun pada saat itu juga tiba-tiba dinding vagina Eri mencekik kuat sekali. Dengan cekErin yang kuat dan enak sekali itu. aku tidak mampu lagi menahan jebolnya bendungan dalam alat kelaminku.

Pruttt! Pruttt! Pruttt! Kepala kontholku terasa disemprot cairan vagina Eri, bersamaan dengan pekErin Eri, keluarrrr! Tubuh Eri mengejang dengan mata membeliak-beliak. Eri! aku melenguh keras-keras sambil merengkuh tubuh Eri sekuat-kuatnya, seolah aku sedang berusaha rnenemukkan tulang-tulang punggungnya dalam kegemasan.

Wajahku kubenamkan kuat-kuat di lehernya yang jenjang. Cairan spermaku pun tak terbendung lagi. Crottt! Crott! Croat! Spermaku bersemburan dengan derasnya, menyemprot dinding vagina Eri yang terdalam.

Kontholku yang terbenam semua di dalam kehangatan vagina Eri terasa berdenyut-denyut. Beberapa saat lamanya aku dan Eri terdiam dalam keadaan berpelukan erat sekali, sampai-sampai dari alat kemaluan, perut, hingga ke payudaranya seolah terpateri erat dengan tubuh depanku.

Aku menghabiskan sisa-sisa sperma dalam kontholku. Cret! Cret! Cret! Kontholku menyemprotkan lagi air mani yang masih tersisa ke dalam vagina Eri. Kali ini semprotannya lebih lemah. Perlahan-lahan tubuh Eri dan tubuhku pun mengendur kembali.

Aku kemudian menciumi leher mulus Eri dengan lembutnya, sementara tangan Eri mengusap-usap punggungku dan mengelus-elus rambut kepalaku. Aku merasa puas sekali berhasil bermain seks dengan Eri.

Pertama kali aku bermain seks, bidadari lawan mainku adalah perempuan Sunda yang bertubuh kenyal, berkulit kuning langsat mulus, berpayudara besar dan padat, berpinggang ramping, dan berpinggul besar serta aduhai. Tidak rugi air maniku diperas habis-habisan pada pengalaman pertama ini oleh orang semolek Eri.

Kak Ipank terima kasih mas Ipank. Puas sekali saya. indah sekali sungguh enak sekali, kata Eri lirih. Aku tidak memberi kata tanggapan. Sebagai jawaban, bibirnya yang indah itu kukecup mesra. Dalam keadaan tetap telanjang, kami berdekapan erat di atas tempat tidur pacarku.

Dia meletakkan kepalanya di atas dadaku yang bidang, sedang tangannya melingkar ke badanku. Baru ketEri jam dinding menunjukkan pukul 22:00, aku dan Eri berpakaian kembali. Eri sudah tahu kebiasaanku dalam mengapeli Dina, bahwa pukul 22:00 aku pulang ke tempat kost-ku sendiri.

Sebelum keluar kamar, aku mendekap erat tubuh Eri dan melumat-lumat bibirnya beberapa saat. Kak Ipank kapan-kapan kita mengulangi lagi ya mas Ipank Jangan khawatir, kita tanpa Ikatan. Eri akan selalu merahasiakan hal ini kepada siapapun, termasuk ke Kak Dai dan Mbak Dina.

Eri puas sekali bercumbu dengan mas Ipank, begitu kata Eri. Aku pun mengangguk tanda setuju. Siapa sih yang tidak mau diberi kenikmatan secara gratis dan tanpa Ikatan? Akhirnya dia keluar dari kamar dan kembali masuk ke rumahnya lewat pintu samping. Lima menit kemudian aku baru pulang ke tempat kost-ku.

 

Incoming search terms:

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *